,

TEST KEMAMPUAN MELIHAT PADA PSIKOTEST

Monday, July 4, 2011

1.   Penjelasan

Baik kemampuan untuk belajar, maupun kemampuan untuk memecahkan masalah mempunyai keuntungan- keuntungan tertentu sebagai definisi yang dimaksud dengan inteligensi. Keduanya cenderung menghilangkan kontradiksi-kontradiksi yang muncul apabila yang digunakan hanyalah kemampuan beradaptasi saja.

Tes mental dan tes lain yang sejenis berhasil membuktikan bahwa inteligensi erat kaitannya dengan tidak senangnya seseorang melakukan kerja yang rutin sehingga pada akhirnya bukan menjadi suatu sarana pembantu dalam hidup ini, tapi sebaliknya menjadi batu sandungan.

Pandangan yang berbeda.

Adanya pertimbangan mengenai dua sudut pandang yang berbeda membuktikan bahwa inteligensi juga dapat dipandang dari sudut lainnya.

Bukti-bukti:

1.    Anjing-anjing yang lebih cerdik lebih tahan dites di laboratorium pada saat mereka mendapatkan rangsangan ketegangan-ketegangan tertentu bila dibandingkan dengan anjing-anjing yang kurang cerdik. Misalnya frustasi karena kehausan untuk terus-menerus mengambil keputusan dan lain sebagainya.
2.    Ternyata baik pada Perang Dunia II maupun pada Perang Korea, tentara yang tinggi IQ-nya tidak mudah mengalami kegoncangan jiwa bila dibandingkan dengan mereka yang kurang IQ-nya.

Bukti-bukti seperti ini menyatakan bahwa inteligensi ternyata tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan kemampuan seseorang untuk beradaptasi. Banyak juga bukti-bukti lain yang menyatakan bahwa teman kita yang cerdik ternyata kurang mampu bertahan di bawah kondisi-kondisi tertentu, baik karena tekanan emosional, maupun tekanan lain yang ada kaitannya dengan otak yang tinggi energinya. Tetapi tidak boleh dilupakan segi pandangan lain, bahwa besar kemungkinan ia dapat lebih bertahan di bawah berbagai macam kondisi tertentu, bukan hanya pada satu kondisi saja.


Persepsi

Tanpa persepsi tidak mungkin ada proses belajar dan tidak ada pemecahan masalah. Persepsi merupakan langkah pertama dalam seluruh proses adaptasi. Bila kita tidak dapat mengamati lingkungan kita sendiri maka usaha kita untuk beradaptasi mungkin hanya merupakan faktor kebetulan saja, seperti seorang yang tidak dapat merasakan dan menggunakan semua inderanya dan tidak mampu lagi membedakan siang-malam, panas-dingin.

Misalkan Anda mampu berpersepsi mengatasi sesuatu, bahwa seluruh indera Anda bekerja dengan baik, maka timbul pertanyaan: “Seberapa baikkah persepsi Anda melalui otak Anda?”

0 comments

Post a Comment